Pembentukan Perda Masyarakat Adat Menemui Jalan Berliku

By Kabar Pulau 19 Des 2017, 06:57:21 WITEtniq

Pembentukan  Perda  Masyarakat  Adat  Menemui  Jalan Berliku

tradisi yang berbeda-beda dalam  penyebutan komunitas adat dengan bentuk yang sangat beragam. Di Halteng dan Haltim biasa disebut sebagai Pnu dan di Wilayah Ternate dikenal dengan Soa serta di Halut di kenal dengan Hoana.

“Dari Pnu berkembang atau melebur menjadi Desa. Karena itu kehadiran Desa secara tidak langsung membuat  identitas masyarakat adat menjadi lemah. Di Malut tercatat ada kurang lebih 57 Komunitas Masyarakat Adat yang terindentifikasi dalam Anggota AMAN  bahkan masih banyak belum terindentifikasi ,” jelas Munadi.

Dia turut memaparkan situasi mayarakat  adat  yang  dihadapkan pada ekspansi ruang hidup skala besar lewat sektor Sumber Daya  Alam (SDA). Perebutan ruang hidup mulai dari sektor  tambang  dan Perkebunan Kelapa Sawit. Masyarakat banyak   kehilangan   haknya, hingga diskriminasi dan intimidasi  oleh pihak perusahan dan Negara.

Terkait  Perda Masyarakat Adat Munadi mengatakan, ada ruang dan situasi yang rumit dalam memperjuangkannya.  Usulan Perda PPHMA di Halteng, kehadirannya  dianggap  menghambat pembangunan dan investasi.  “Ini di benak pemerintah. Padahal  cara pandang ini sungguh keliru dan bertentangan dengan UUD 1945 sebagaimana  diatur dalam pasal 18 ayat 2,” katanya.

Sementara, Nam Rumkel mengatakan ada beberapa hal terkait pengistilahan  dipakai dalam penyebutan masyarakat adat. Ada masyarakat hukum adat, hukum adat, hukum kebiasaan dan  kemudian hak ulayat.  Sebagai salah satu orang yang ikut membahas tentang Undang-undang perlindungan masyarakat adat  situasi secara nasional  , sesuai rancangan Undang undang yang dibahas, telah  disepakati masyarakat adat oleh kalangan akademisi memiliki makna yang lebih luas dari masyarakat  hukum adat.

Tulis Komentar Facebook

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Lihat Semua Komentar

Tulis Komentar