NKRI, Archipelago atau Negara Kepulauan

By Andhy EH 24 Des 2016, 22:29:13 WITOpini

sanya pelabuhan pengumpul. Dua hubungan internasional merupakan “ruang tamu” yang disediakan untuk kapal-kapal asing. Hanya di dua pelabuhan itulah, kapal asing diperkenankan masuk  atau bersandar. Dua hubungan internasional itu adalah Kuala Tanjung (Sumatra Utara) dan Bitung (Sulawesi Utara). “Jadi, kalau semua tamu dari luar negeri datang, mereka hanya boleh masuk sampai di ruang tamu, tidak boleh masuk sampai di ruang lain, apalagi dapur. Dalam pandangannya Deputi Bapenas Bidang Infrastruktus, Dedy S. Priatna, hanya kapal-kapal berbendera Indonesia yang bisa beroperasi di pelabuhan utama dan pengumpul. Penentuan dua hubungan internasional mengikuti konsep yang  yang dibuat semasa Presiden SBY dengan alasan beberapa pelabuhan internasional, seperti Tanjung Priok dan Tanjung Perak sudah melebihi kapasitas dalam menampung kapal-kapal  over capacity. Sementara dalam pelabuhan-pelabuhan yang lain belum memenuhi standar kedalaman internasional. (Sindo Weekly 17 Desember 2014 : 13-14).

Pemetaan Tol Laut yang dirancang oleh Bappenas

Pertanyaan mendasar yang perlu diajukan buat pemerintah saat ini adalah bisakah pemerintah menyatukan negara kelautan dengan tol laut ? Mampuhkah pemerintah menyelesaikan pembangunan tol laut yang diperkirahkan memakai anggaran sekitar Rp 700 triliun ? bukan berarti pesimis, tetapi sepertinya  berat mengatakan ya, kita lihat saja berapa ratus jembatan yang masih bermasalah dengan kapasitas dalam menampung kapal-kapal yang sandar, belum lagi masalah kedalaman yang tidak masuk ukuran taraf internasional. Bahkan Indonesia hampir tidak ada kapal yang bisa diharapkan, baik kapal angkut barang maupun penumpang, yang lebih parah lagi lemahnya regulasi dalam mengatur aktifitas kelautan. Semua perencanaan yang dirancang Jokowi, mengenai poros maritim (tol laut) dan Bappenas sendiri

Tulis Komentar Facebook

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Lihat Semua Komentar

Tulis Komentar