Kerusakan Hutan di Obi Cukup Serius

By Kabar Pulau 02 Jul 2018, 15:02:41 WIT

Kerusakan Hutan  di Obi  Cukup Serius
Rusaknya hutan di Obi terlihat sangat nyata. Foto/Forest Watch Indonesia

yang masuk sebagai wilayah izin  PT Poleko Yubarsons.

 Sementara soal perusahaan yang beroperasi di pulau Obi   data  Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Maluku Utara  menunjukan, industry tambang di daerah ini  terbilang sangat massive.  Daerah yang terletak di antara 1260 45’ – 1290 30’ Bujur Timur dan antara 00 30’ Lintang Utara – 20 00’ Lintang Selatan  ini memiliki luas  wilayah sekira 40.263,72 km2,   terdiri dari daratan 8.779,32 km2 (22 persen) dan  lautan 31.484,40 km2 (78 persen).

 

Direktur WALHI Malut Ismet Soleman menjelaskan, pada  2015, kawasan hutan alam di Halmahera Selatan  tercatat  seluas 810.455,17 hektar, terdiri dari 131.034,54 hektar Hutan Lindung (HL); 178.134,63 hektar Hutan Produksi Terbatas (HPK); 185.404,54 hektar Hutan Produksi tetap (HP); 127.415,52 hektar Hutan Produksi Konversi (HPK); 42.327,23 hektar Suaka Alam (SA) dan konversi alam, sisanya seluas 142.621,17 hektar digunakan sebagai areal penggunaan lain (APL) dan sebanyak 3.517,55 hektar merupakan perairan. Produksi hasil hutan pada 2015 menghasilkan kayu bulat 63.444 m3.  

Dikatakan,  data   Dinas Pertambangan dan Energi, Kabupaten Halmahera Selatan, pada 2011  terdaftar 58 perusahaan pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP), baik tahapan eksplorasi  maupun eksploitasi. Namun pada pengumuman Clear and Clean (CNC) mencatat jumlah  IUP di Halmahera Selatan berjumlah 55 dimana 35 IUP telah clean and clear.

                Dari data perusahaan tambang yang banyak di Halsel ,   Pulau Obi memiliki daya tarik tersendiri. &n

Tulis Komentar Facebook

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Lihat Semua Komentar

Tulis Komentar