Hukum Tanah di Rimba Halmahera

By Kabar Pulau 26 Okt 2017, 14:12:44 WITKabar Kampung

Hukum Tanah di Rimba Halmahera

gai teritori kekuasaan atau hanya milik perseorangan, dia ceritakan kendati tak semuanya.

Sejarah asal muasal Modole sendiri sangatlah minim. Sebabnya, kata Habel, karena banyak kisah yang tak boleh diceritakan sembarangan. Karena tradisi ini, akhirnya banyak riwayat mereka tenggelam bersama dengan meninggalnya nenek moyang mereka. “Boboso, bisa-bisa tong dapa dia pe katula [ Pamali, bisa-bisa kami dapat kualat]” ujarnya.

Lelaki tua ini, sambil sesekali menarik asap rokok kretek, bercerita; karena kolonialisme maka nenek moyang mereka tersudut hingga ke Telaga Lina, sebelum keluar dan mendiami desa-desa di pedalaman Kao, seperti sekarang ini. Mereka kemudian diikat oleh tali persaudaraan dengan tiga suku lain; Kao, Boenge, Pagu. Persaudaraan yang hingga kini tetap terjaga.

Ketika keluar dari pedalaman itulah, wilayah yuridiksi mereka ditandai oleh nenek moyang Modole saat itu. Penanda alam seperti gunung, sungai, batu besar, dan tanjung, sangat sering dipakai sebagai batas teritori. Ini kebiasaan umum pada suku-suku di Halmahera.

Pada masa awal, nenek moyang menandai wilayah berburu dan wilayah kekuasaannya dengan golok atau bagian ujung tombak. Penanda ini sah dan dihormati oleh komunitas lain, karena mereka juga punya model yang sama. Siapa yang lebih dahulu menandai, yang kemudian datang akan menghormati dan memilih untuk keluar dari territory yang sudah ditandai.

Proses menandai ini diistiahkan dengan sigoto. Sebuah klaim yang saat itu legal dan diberi pengesahan oleh komunitas yang datang kemudian. Klan itu berburu, dan beraktivitas di area yang menjadi teritory mereka. Awalnya ini hal biasa. Karena anggota komunitas kemudian bercocok tanam dalam area yang sudah ditandai. Seseorang yang melakukan apa yang diistilahkan dengan Tola Gumi atau membuka lahan, se

Tulis Komentar Facebook

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Lihat Semua Komentar

Tulis Komentar