Demokrasi, Sebuah Ontologi Kecil.

By Kabar Pulau 29 Jan 2018, 18:10:09 WITOpini

Demokrasi, Sebuah Ontologi Kecil.

u dimaknai sebagai menjadi manusia seutuhnya. Ada kitab PepakemTjaruban (MenusaCerbon). Menjadi manusia Cirebon adalah blakasuta (terbuka), spiritualitas, dan ingat akan asal usul diri (purwadaksi). Dalam manusia Jawa yang diolah adalah rasa, spiritualitas dan personality. Bisa kita bandingkan dengan manusia dalam perspektif Konfusius, konsep bagaimana manusia yang harmoni dengan manusia lainnya dan alam, serta belajar terus-menerus untuk mencapai manusia sempurna. Dan itu tidak dicari dari luar diri, tidak mencari panutan, yang diolah adalah diri sendiri. Ekspresi kultural ini terdeskripsi dalam motif batik misalnya, motif batik Pasundan yang dipakai para menak Sunda Priangan yaitu batik Kawung (Mega Mendung, Paksi Naga Liman, Padasan dll). Lalu batik Tegal, batik Pekalongan, batik Tuban, batik Madura, batik Solo, Batik Jogjadstnya (sumber: Sitti Rahmah Soekarba, FIB UI, Jakarta 2018).

Arnold J. Toynbeemengatakan :‘kemajuan terjadi ketika sebuah tantangan berhasil ditemukan jawabannya, hingga pada akhirnya muncul tantangan lainnya yang membutuhkan jawaban baru, demikian seterusnya. Sekalipun sepanjang sejarah telah banyak peradaban yang runtuh, tiada alasan intrinsik untuk menafikan proses tersebut sebagai sebuah fakta historis.’

Sayangnya tantangan demokrasi kita masih terjebak dengan aspek prosedural dan hal-hal kuantitatif belaka, belum tiba pada tataran demokrasi substantif. Rakyat dianggap sekedar penentujumlah konstituen dengan yang harus dicapai untuk memenuhi syarat prosedural sebuah kemenangan menuju kekuasaan belaka. Belum diletakkan sebagai ‘daulat rakyat’dimana kekuasaan memperoleh mandatjusteru dari rakyat tersebut sebagaimana pikiran Hatta sejak awal. Di negeri ini jabatan eksekutif seakan menjadi Tuhan dalam politik.Dalam sebuah senja di Bula

Tulis Komentar Facebook

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Lihat Semua Komentar

Tulis Komentar