“Sultan Tidore, Morotai dan Jokowi.”

By Kabar Pulau 18 Jan 2017, 13:08:56 WITOpini

“Sultan Tidore, Morotai dan Jokowi.”

ampai jatuh ke pihak asing’ demikian ungkap Jusuf Wanandi. Sayangnya, republic ini lebih banyak dihuni oleh kekuasaan dan rakyat yang ‘ahistoris’, bangsa pelupa karena mengidap amnesia sejarah. Lebih banyak senang ‘hoax’.

Dalam konteks itulah, surat Jou Kolano Tidore, bagaikan petir yang menyambar di siang bolong, untuk mengingatkan. Bahwa pembangunan itu bukanlah memposisikan rakyat lokal menjadi periferal. Morotai yang eksotis, penuh nilai sejarah, jelas sangat menjanjikan. Morotai adalah gerbang Indonesia di Pasifik. Alangkah konyol jika rumah besar NKRI, sebagaimana istilah Sultan Tidore, malah gerbangnya dikuasakan kepada pihak asing. Saya, yang mengalami masa kecil pada butiran pasir putih Morotai. Kakek saya Sangaji Wayabula yang pada 1942 menyaksikan pendudukan Jepang pada Morotai, dan pada 1944 turut menyaksikan pendaratan Douglas MacArthur di Tanjung Dehegila Morotai. Bahwa Morotai bukanlah sepotong negeri tak bertuan.

Bahwa ‘warkatulikhlas’ Jou Kolano Tidore, adalah tindakan yang benar berbasis keikhlasan nurani seorang anak negeri. Beliau sekadar meneruskan tradisi Kaicili Paparangan Jou Barakati. Agar negara ini tidak menjadi negara gagal, ketika elite di pusat kekuasaan semakin terjebak pada perang politik identitas tak berujung pangkal akhir-akhir ini. Hal mana dapat menggerus keindonesiaan kita, karena kita asyik bertikai sementara SDA diekploitasi asing didepan mata kita. Surat Sultan adalah sebuah upaya merajut keindonesiaan kita.

 

 


Tulis Komentar Facebook

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Tulis Komentar

Ada 1 Komentar untuk Berita Ini

  1. udin umar 22 Jan 2017, 20:57:47 WIT

    Menakjubkan gagasan cerdas salah seorang putra terbaik bangsa dari timur indonsia

Lihat Semua Komentar

Tulis Komentar