Pelacuran

By Andhy EH 24 Des 2016, 22:30:12 WITOpini

Murid Tonirio

Dosen IAIN Ternate dan UMMU

  

PELACURAN, kata sahibul hikayat, hampir seusia peradaban manusia. Pelacuran, kelakuan komersialisas seks, selalu dikutuk oleh apa yang disebut peradaban karena dua alasan: Pertama, pelacuran merendahkan martabat manusia yang semestinya tahu adab batas-batas cara berhubungan seks. Kedua, pelacuran adalah biang penyakit – yang ringan adalah sipiih, dan yang paling mematikan semacam HIV/AIDS. Namun, pelacuran tidak kunjung bisa diberantas karena satu alasan: Mereka yang dengan keras kepala berusaha memberantas pelacuran juga sebenarnya menghasrati seks liar. Berganti pasangan. Pelacuran, bagi laki-laki, menjadi semacam arena peragaan eksistensi kelaki-lakian.

Untuk alasan yang terakhir inilah, bahkan oleh kelompok yang mengklaim diri berperadaban adiluhung, seperti diceritakan Foucault di Britania era Victoria, tak ayal memperagakan sifat munafik terhadap seks. Mereka menghujat seks yang diekspresikan secara alami hampir di mana-mana di tempat yang bisa dipakai, lalu mengaturnya, katanya lebih layak, lebih terhormat. Di situ  bukan sekadar menghormati martabat manusia, namun juga agar yang beradab, para penghuni sarang hangat budaya adiluhung, bisa berpartisipasi. Beberapa dalam dalam bentuk harem. Maka, seks yang semula dianggap sebagai sesuatu yang bisa diekspresikan secara alami, diatur, dibirokratisasikan. Hubungan seks yang alami lalu menjadi semacam penyakit sosial – persis seperti ekspresi jiwa yang berbada dianggap sebagai kegilaan yang, kelak di kemudian hari, memunculkan rumahsakit jiwa.

Tulisan ini bukan membentangkan sejarah pelacuran yang bisa mencapai tepi-batas peradaban manusia pertama, Adam dan Hawwa; bukan juga sejar

Tulis Komentar Facebook

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Lihat Semua Komentar

Tulis Komentar