MAYA DILIKINI DAN PARDIDU

By Andhy EH 24 Des 2016, 22:26:02 WITSastera

MAYA DILIKINI DAN PARDIDU

Oleh : Indra Talip

Ia hidup di dunia supra-relitas dan supra urban, dunia hayper namanya. Di ruang kemayaan ini, Ia bagai Dilikini. Dilikini dalam bahasa lokal, tobelo. Berarti arwah. Tak heran, jika orang menyebutnya Maya Dilikini. Orang tanah, biasa memanggilnya dengan sebutan Maya. Tapi di ruang supra-realitas, orang menyebutnya Dilikini, arwah yang gentayangan. Maya Dilikini, sering mengujungi beranda di semua ruang dan waktu, Maya Dilikini, sudah menjadi adi-manusiawi, terbebas dari sekat-sekat ruang. Maya Dilikini meruang dan mewaktu. Tidak ada yang abadi, kecuali waktu. Dia sendiri sendiri adalah waktu.

Pardidu, adalah lelaki, yang menghabiskan umurnya dengan Khayalan. Karena itu, ia sering kesepian. Satu-satunya hiburan untuk dirinya adalah dengan buaian mimpi. berhari-hari Pardidu bekerja merumuskan hayalan. Sambil senyum sendiri, ia bayangkan, gadis perawan, dengan rambut tergerai basah, di bawah purnama, datang mengencanginya di malam yang riuh. Pardidu sangat suka pinang perempuan, apalagi gadis, perawan pula. Pardidu pernah menuding bayangannya sendiri, di depan cermin. “kamu adalah absurditas dan keterasingan dari kebudayaan orang-orang Tanah”. 

Di dunia kemayaan yang supra realitas dan supra urban. Orang-orang malangsungkan migrasi sesuka hati, tanpa tanda pengenal. Orang-orang lalu lalang, bertemu dan tidur di dasar laut. Kelangit-langit sambil bawa kasur, nyebur khayal. seorang Kakek, usia senja, menyulap dirinya jadi anak muda, yang baru saja mengalami “mimpi basah”. Maya Dililikini, suatu ketika, kala gerimi, ia menyapa Kakek tua itu, “Hai Kek, sisahkan kopimu, untuk tuangkan kedalam kosongku”. Kakek paru baya, rada genit menyahut, “bisa, asalkan ada cangkir, untuk kutuangkan bibit kopiku”.. ah, gombal. menurut keterangan orang tanah, ka

Tulis Komentar Facebook

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Lihat Semua Komentar

Tulis Komentar