IUP: Satu Kenyang Seribu Kelaparan

By Kabar Pulau 08 Agu 2017, 05:10:37 WITOpini

IUP: Satu Kenyang Seribu Kelaparan

 

OLEH : Muhlis Ibrahim

Kordinator Konsorsium Advokasi Tambang (KATAM) Maluku Utara

 

“Tanah pertiwi anugerah ilahi,

Jangan ambil sendiri,

Tanah pertiwi Anugerah Ilahi,

Jangan makan Sendiri” (- Franky Sahilatua -)

 

Lagu “Perahu Retak” masih relevan mewakili sikap protes, karena sangat menohok. Lagu garapan bersama budayawan Emha Ainun Nandjib itu bagai cermin yang mewakili segala jeritan rakyat, ketika semua sumber daya alam dan energi  yang ada di negeri ini raib dibabat habis para komprador atas nama investasi. Bukan kemakmuran tapi justru meninggalkan kerusakan ekonomi dan kehancuran ekologi. Sebuah kebijakan pembangunan nasional yang sangat kapitalistik, dan berperan besar dalam meretakkan perahu negeri. Kue pembangunan hanya dinikmati segelintir orang. Sementara mayoritas rakyat tersingkir dari lapangan produksi dan menjadi paria negeri sendiri.

Fenomena yang digambarkan dalam lagu itu, “satu kenyang, seribu kelaparan,” menunjukkan tentang berkuasanya satu manusia dan menikmati sendiri kekayaan yang ada di negeri ini. Fakta itu kini hadir telanjang di depan mata kita. Perselingkuhan antara para cukong atas nama investasi dengan pemegang kuasa di Maluku Utara, secara aneh bin ajaib telah melahirkan 27 IUP (izin usaha Pertambangan) prematur. Ini bukti kongkrit sebuah praktek kebatilan atas nama pembangunan.

Beranjak dari praktek yang terjadi selama ini, cara mengelurkan IUP tanpa didasari oleh mekanisme sesuai ketentuan UU No 4 Tahun 2009 tentang mineral dan batu bara, adalah tindakan nyata pemerintah melawan konstitusi. Praktek penyelanggaraan pemerintah berdasarkan selera (syahwat) pribadi, sudah tentu akan bermuara pa

Tulis Komentar Facebook

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Lihat Semua Komentar

Tulis Komentar