Hukum Tanah di Rimba Halmahera

By Kabar Pulau 26 Okt 2017, 14:12:44 WITKabar Kampung

Hukum Tanah di Rimba Halmahera

Penulis: Rusli Djalil

Penanda wilayah atau teritori orang Halmahera: sigoto, tolagumi, dan ruba banga, makin tergusur

 

Keriput di wajah Habel Tukang, dan uban bagai mahkota di kepalanya, tak mengurangi semangat lelaki Modole. Baju berbahan kaus lengan pendek berwarna hijau daun, dan celana sebatas lutut bersih, dipakainya ketika menerima saya di rumahnya.

Rumahnya sangat sederhana. Dinding beton kasar, lantai tanah, dan atap seng, tak mengurangi keramahan lelaki berumur enam puluh tahun itu melayani saya.Siang itu Selasa, 15 Agustus 2017, saya berbincang dengan tokoh adat paling berpengaruh, yang berposisi Sangaji Modole di rumahnya, di desa Leleseng, Kao Barat, Halmahera Utara.

Jabatan sangaji adalah jabatan yang sangat bergengsi di dalam struktur lembaga adat. Pada era kesultanan dulu, mereka adalah penguasa wilayah dengan beberapa kedaulatan besar. Saat ini posisi mereka masih sangat dihormati di komunitasnya. Ketika perbincangan masuk ke masalah adat, dia sangat hati-hati menjawab pertanyaan. Melihat semangat saya bertanya, dia balik bertanya, “Anak asal dari mana?”.

Saya menyebut asal daerah saya, Gamkonora, dan, dengan sikap tegas dan hormat lelaki tua itu berdiri dan menjabat tangan saya. “Kami berasal dari tempat kalian. Kita ini dulu serumpun. Saya mengejarnya dengan pertanyaan, “Apakah kita dari Jailolo?” Sambil terdiam dia mengangguk. Rupanya identitas awal mereka tabu diceritakan.

Banyak hal yang kami obrolkan. Tetapi ada beberapa bagian dari kisah komunitas tua di pedalaman Kao itu yang tak mau dia ceritakan. Hanya tentang status tanah, apakah milik pribadi atau komunal, apakah itu masuk kategori privat atau public, lantas apakah satu daerah masuk seba

Tulis Komentar Facebook

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Lihat Semua Komentar

Tulis Komentar