Harga Diri

By Kabar Pulau 26 Jan 2017, 05:54:19 WITOpini

Harga Diri

Ole:Murid Tonirio

Pengajar IAIN Ternate

 

 “Tanahku terbuka untuk semua bangsa” (Sultan Alauddin)

 

KETIKA pertama membaca kata-kata salah satu Sultan Gowa dari abad ke-17 ini, saya nyaris tidak punya ketertarikan berarti. Ia mulai menarik perhatian saya, dan saya suka, setelah memperhatikan konteks sosial, budaya, politik dan ekonomi Gowa yang membentuk kata-kata itu. Alauddin mengucapkan kata-kata itu dalam satu tarikan nafas dengan kalimat berikut: “Allah ta’ala yang menciptakan bumi dan laut, telah membagi-bagikan daratan para manusia dan laut untuk digunakan besama. Tidak pernah ku dengar sebelumnya seseorang dilarang untuk berlayar di lautan”. Alauddin mendeklarikan sikapnya seperti itu ketika VOC melarang perahu-pedagang Makassar berlayar keluar dari, dan pedagang Jawa, Melayu, dan Cina masuk ke, Gowa tanpa izin perusahaan bersenapan itu.

Melihat latar sosial, ekonomi dan politik Gawa pada abad ke-17, yakni sebagai salah satu pusat perdagangan internasional, kata-kata Alauddin di atas mungkin akan segera ditafsirkan sebagai perlawanan, atau penolakan terhadap penjajah. Tetapi, mengapakah hanya Alauddin – dari sangat banyak raja/sulatan di Nuasantara pada waktu itu – yang melakukan perlawanan? Apakah perlawanan Alauddin – karena kata-kata itu jelas-jelas menyerukan perlawanan – terhadap VOC semata didorong faktor politik dan ekonomi?  

Setelah lebih dua dekade “meninggalkan” Makassar, seraya menghadapi kondisi sosial-politik Maluku Utara yang kian hari makin tidak menentu, kata-kata Alauddin itu saya serapi dengan suasana batin yang sangat berbeda. Saya tidak tahu, apakah kata-kata itu mesti saya serapi sebagai seruan dari satu suku-bangsa (Makkasar) yang begitu menjunjung harga diri? Dan diujung kita, bisaka

Tulis Komentar Facebook

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Lihat Semua Komentar

Tulis Komentar