Cengkih dan Pala di Pulau Ternate yang Makin Menyusut

By Kabar Pulau 07 Mar 2017, 19:55:07 WITKabar Kota Pulau

Cengkih dan Pala  di  Pulau Ternate yang  Makin Menyusut

Tiap Tahun Ternate Kehilangan Rp5 Miliar   

Penulis: Rahmatulhaj Jurnalis

Kejayaan Ternate  sebagai penghasil rempah-rempah terutama pala dan cengkih tidak diragukan lagi.  Bangsa Eropa mendarat di Ternate dan membangun emperium besar di negeri pulau-pulau ini,  bukan karena mencari tambang. Kedatangan mereka dan menancapkan kuku penjajahan itu karena pulau ini kaya akan rempah- rempah. Mulai dari Portugis, Spanyol, Inggris  hingga Belanda, semuanya ingin menguasai gugusan pulau-pulau ini karena cengkih dan pala.  

Pulau-pulau daerah ini adalah sumber rempah yang melegenda. Pedagang India, Arab, Tiongkok dan Jawa sering berkunjung ke daerah ini karena menjadi sumber rempah dunia.
Setelah dari sini Mereka pulang membawa komoditi  berharga ke negara asal untuk dijual dengan harga tinggi. Cengkeh, bersama pala dan fuli begitu berharga sebanding dengan emas karena digunakan sebagai bumbu makanan dan untuk mengawetkan makanan atau bahan obat- obatan.
Pasca Perang Salib, rute perdagangan ke Timur ditutup Kesultanan Otoman bagi pedagang Eropa sehingga Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda bertekad menemukan kepulauan rempah ini. Vasco da Gama adalah orang pertama yang berlayar ke Tanjung Harapan di Afrika untuk mencapai India. Kemudian, dari India, Portugis akhirnya menemukan rute ke Maluku pada 1521, dan tiba di kepulauan rempah-rempah Ternate, Tidore, dan Banda. Untuk sampai di sana, pelaut Portugis berlayar sejauh 14.000 kilometer - hampir 9.000 mil, menghadapi badai, ombak tinggi dan angin muson tropis.  Saat kedatangan pedagang Eropa, sudah ada kesultanan berkembang di Ternate dan Tidore sehingga persaingan perdangan  dan upaya monopoli pun terjadi. Pedagang Spanyol, Belanda dan Inggris tergiur membentuk armada perang memonopoli per

Tulis Komentar Facebook

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Lihat Semua Komentar

Tulis Komentar