Batu Akik Akek

By Andhy EH 24 Des 2016, 22:20:48 WITSastera

Batu Akik Akek

Cerpen : Rajif Duchlun

DESA B terkenal dengan busung lapar. Mereka dihantam badai kemiskinan yang mengenaskan. Hingga suatu ketika, ironis ini mendadak berlalu bagai angin yang menghempaskan. Orang-orang akhirnya meriuh bahagia, kedatangan serombongan orang dari Kota J membawa sepenggal harapan; mereka bisa makan dan hidup seperti orang-orang yang menang.

Semuanya dimulai dari bongkahan-bongkahan batu akik milik Akek. Tidak ada yang bisa menyangka, batu-batu itu akhirnya merubah hidup mereka.

Di Desa B—sebelumnya—teramat miris bila bermimpi hidup layak. Pepohonan kelapa, pala, dan cengkih sudah dibabat rata dengan tanah. Padahal, pepohonan itu adalah sumber utama untuk bisa bertahan hidup. Namun ironis, perusahaan membuat segalanya tiada. Orang-orang di Desa B tak bisa lagi memetik kelapa, pala, dan cengkih untuk dijual. Sumber hidup pun akhirnya bergantung ke laut.

Tapi, air keluar dari mata mereka yang kesekian kali. Saat mereka percaya ikan di laut bisa memberikan mereka kehidupan, malah didapat hanyalah kesia-siaan. Pembabatan hutan dan kebun di Desa B memicu masalah baru. Limbah-limbah darat hasil tebangan dan aktivitas perusahaan membuat pesisir dan laut tercemar. Banyak ikan yang mati dan berpindah ke tempat yang lebih jauh. Setiap hari, setiap malam jatuh, mereka hanya tersedu-sedu bersama keluarga-keluarga tercinta.

“Ini adalah cobaan yang tragis. Anak-anak kita masih terlalu kecil untuk menerima cobaan seperti ini,” kata seorang pemuda saat mereka sedang bercakap-cakap di Balai Desa.

Bulan berganti, segala macam penyakit datang melanda. Busung lapar menyerang anak-anak kecil. Berat badan orang-orang di sini mulai menurun. Tubuh mereka ringkih dan sesekali gemetar seperti menahan lapar. Setiap hari, selalu terdengar kabar, keluarg

Tulis Komentar Facebook

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Lihat Semua Komentar

Tulis Komentar